Ketika kita memberi anak CUKUP menggendong.


Ucapan :
"bayi jangan digendong terus. Nanti jadi bau tangan. Jadi MANJA."

"anak toddler jangan dibujuk untuk mau mandi atau makan. Nanti malah jadi MANJA."

Kita terlalu takut memberi kebutuhan anak.. dengan dalih 'takut MEMANJAKANNYA'. Padahal..

Ketika kita memberi anak CUKUP menggendong.
Dia tidak akan terus-menerus minta digendong sampai nanti dewasa kok.
Ia akan BERHENTI minta gendong ketika kebutuhannya sudah cukup.


(dengan catatan.. kita MENGGENDONG pun dengan melihat KEBUTUHAN anak.
Bukan berarti digendong terus-menerus.
Namun juga distimulasi untuk tummy time, merangkak, dst.
Tapi di sisi lain, bukan berarti MENGABAIKAN kebutuhan anak untuk menggendong. Karena merasa anak minta gendong = memanjakan. Padahal itu memang kebutuhannya)

Karena.. justru.. ketika kurang memberikan SENTUHAN
FISIK penuh kasih sayang
(termasuk: menggendong)...
anak bisa jadi akan semakin clinging (menggelendot) atau menempel terus pada kita sampai usianya sudah lebih besar.

Karena memang pada usia bayi..
anak sedang masanya pembentukan KEPERCAYAAN pada dunianya (pada orang di sekitarnya).
Menggendong.. adalah salah I bentuk penguatan.. bahwa kita memang sosok yang dapat DIPERCAYA.
Bahwa.. kita akan ada untuknya. Bahwa kita mencintainya tanpa tapi.

Sehingga.. ketika kepercayaannya sudah
terbentuk di masa BAYI.
Ia dapat melangkah ke tugas selanjutnya : KEMANDIRIAN.
Jadi.. MENGGENDONG bukan bentuk dari memanjakan. Justru MENGUATKAN fondasi dirinya.
Ketika ia digendong.. tapi justru makin 'manja', yang perlu dicek adalah: apakah kita menggendong bahkan ketika ia sedang tidak mau & tidak butuh (menggendong padahal ia sedang mau merangkak, misalnya).

Begitu juga saat masa TODDLER..
kita ingin anak bisa 'DISIPLIN'.. namun (tanpa sadar) MEMAKSAKAN harus sesuai dengan STANDAR kita.
Karena takut.. kalau tidak sesuai dengan STANDAR kita: MEMANJAKAN anak.

Padahal.. ketika kita 'memaksakan standar'
(kalau ibu bilang mesti makan, ya langsung makan, titik. Kalau bapak minta mandi, langsung mandi tanpa tapi)
Anak justru.. makin MERENGEK.
Kita pun dapat terjebak pada pola MELAYANI anak (daripada jadi ribet pas makan mending anak disuapin terus, daripada ribet pas mau pergi untuk menunggu anak memakai bajunya mending langsung dipakaikan terus).

Atau.. anak melakukan sesuatu hanya karena TAKUT dimarahi..
tidak mengerti MENGAPA perlu melakukannya.
Anak pun perlu terus-menerus DISURUH untuk melakukan sesuatu.
Kita jadi merasa harus selalu 'BERANTEM' dulu dengan anak, baru ia mau 'jalan'. Kita merasa anak TIDAK INISIATIF.
Atau bisa jadi.. anak diam-diam melakukan berbagai hal yang kita larang, di belakang kita (karena ia tidak mengerti alasannya).

Berbeda jika kita memperlakukan anak sesuai perkembangannya.
Bahwa anak toddler WAJAR (malah perlu) untuk sering mengatakan 'gak mau' dan melakukan hal sesuka hatinya (karena itu berarti pembentukan identitas dirinya sedang berlangsung. Ia ingin diakui keberadaannya. Ia ingin mandiri).
Yang perlu kita lakukan.. bukan MEMBUNGKAM keakuannya (gak boleh, jangan, lakuin seperti yang ibu bapak minta). Namun justru MENGARAHKAN agar keakuannya ini berada pada jalur yang tepat (tetap mengikuti aturan untuk makan & mandi pada jamnya. Namun dengan caranya : mandi dengan membawa mainan
favoritnya, sambil kita jelaskan alasan perlu mandi).
Karena.. jika kita BUNGKAM, yang terpendam dapat keluar dalam bentuk tidak sehat (terus menerus memberontak, misalnya).
Sedangkan.. kalau kita ARAHKAN.. anak akan tetap mengikuti aturan. Dan masa PEMBERONTAKAN ini tidak akan selamanya. Ketika sudah lewat proses pembentukan, maka berangsur berkurang penolakannya (bukan berati kita turuti, lalu kita memanjakan, dan ia akan begitu terus selamanya. Kalau seperti itu, yang perlu kita cek apakah pada prosesnya ada yang kurang tepat).

 

Posted on 05/26/2023 Home, Rabbit Hole's Article 0 65

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Blog search

Latest Comments

No comments