Saat kita bahagia sebagai seorang indvidu.

Saat kita bahagia sebagai seorang indvidu.

Hidup adalah rangkaian kegagalan yang tiada henti. Namun juga rangkaian kesuksesan yang tiada henti pula. Tergantung bagaimana kita menafsirkannya. 
Mungkin sebenarnya kita sudah punya apa yang kita butuhkan. Anak yang sehat dan menggemaskan, suami yang perhatian, dan rumah tempat bernaung misalnya. Namun, melihat orang-orang di sosial media yang berlibur kesana-kemari, menyekolahkan anak ke sekolah elit, dan kemewahan lainnya. Akhirnya membuat diri berpikir bahwa apa yang dimiliki itu kurang. Apa yang dimiliki tidak sehebat orang lain. Merasa gagal. Padahal belum tentu juga kita akan bahagia kalau memiliki apa yang dimiliki orang lain. 
Nah sebagai seorang individu, coba tanyakan kepada diri sendiri. Apakah sudah terpenuhi kebutuhannya? Apakah amunisinya cukup untuk menimbulkan perasaan bahagia dan sejahtera? Jika iya, stop berkaca pada orang lain. Cermin saja memantulkan bayangan diri kita kan, bukan orang lain. Masa kita 'berkaca' pada orang lain? Jadinya kan memang kurang pas. Karena saat kita bahagia sebagai seorang individu, maka kita pun akan bahagia di dalam peran-peran kita yang lain. Sebagai seorang pasangan, sebagai orang tua, sebagai rekan kerja, sahabat, dan lainnya. 
Saya rasa ini adalah hal yang penting, tapi kadang terlupa, karena masifnya bombardir media sosial belakangan ini. Oleh karena itu, lewat buku Rabbit Hole, kami ingin mengingatkan hal ini. Bahwa kesederhanaan sudah lebih dari cukup, asalkan bersama-sama. Bahwa keluarga bisa bahagia tanpa perlu segala macam atribut kemewahan. Cukup misalnya dengan bermain petak umpet, lari pagi, atau berpelukan bersama di rumah. Asalkan dijalani dengan sepenuh hati dan riang gembira bersama-sama. 
Yuk rayakan kebersamaan dalam kesederhaan. Menjadi individu yang berbahagia ❤️ - @deviraissa

Posted on 2018-10-12 Home, Artikel Devi Raissa 0 96

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Cari blog

Latest Comments

No comments