Menumbuhkan kemampuan mengenali KEBUTUHAN , bukan KEINGINAN.

Menumbuhkan kemampuan mengenali KEBUTUHAN , bukan KEINGINAN.

Waktu itu ada salah 1 akun IG yang sering membahas tentang finansial akan mengadakan talkshow. Saya pun tertarik ikut. 
Saya bilang padanya : Sayang, aku pengen ikut nih // kenapa kamu mau ikut? // biar ngerti aja soal keuangan, biar lebih bisa ngatur keuangan gitu. mm tapi lagi agak males ketemu orang sih // kalau bukunya, ada? // mereka kayaknya belum ngeluarin buku, tapi buku tema serupa banyak, mm tapi aku juga lagi males baca buku topik gituan // ya udah, gak usah ikut dulu. yang penting kan sekarang kita gak boros. 
Dari percakapan itu saya baru menyadari bahwa dia tidak pernah melarang saya. Namun selalu menyadarkan saya untuk memisahkan keinginan & kebutuhan. Kalau langsung dilarang, mungkin saya menurut, tapi setelahnya saya akan mendongkol. Namun yang ia lakukan lebih agar saya mampu menyelami diri saya sendiri, sebenarnya keinginan saya ini, hanyalah keinginan atau beneran kebutuhan? Apa saya hanya ingin ikut event yang sedang hip atau saya beneran ingin belajar finansial? Karena kalau hanya ikut-ikutan, ilmunya jadi kurang masuk. Ia tahu kalau saya sering kurang suka bertemu orang banyak, ujung-ujungnya ke baca buku. Namun kalau bukunya pun enggan saya sentuh, berarti belum butuh-butuh amat dengan topik ini. 
Hal ini pun sepertinya berlaku pada pengasuhan anak. Salah satu hadiah istimewa yang dapat diberikan orang tua ke anak adalah : menumbuhkan kemampuan mengenali kebutuhan, & memisahkannya dengan keinginan. Karena kalau sedari dini keinginan anak dituruti terus-menerus, tentu tidak ada habisnya. Dan di ujungnya, saat keinginan anak selalu dituruti, ia akan selalu meminta lebih & kesulitan mengontrol nafsu. Kebahagiaan semu yang akan didapat, karena yang ingin diraih sekadar keinginan, bukan kebutuhan. Kebahagiaan yang akan hilang kalau keinginan selanjutnya tidak dituruti. .

Kalau keinginan anak dilarang, ia pun tentunya akan kesal. Sehingga sedari dini, alih-alih dilarang, anak diajak merefleksi keinginannya, dan diminta mempertanyakan kembali untuk memisahkan keinginan & kebutuhan. Berpikir sebelum bertindak. 
Mari bantu anak mengenal kebutuhan, alih-alih keinginan. Hal tersebut menjadi bekal berharga dalam mengarungi hidup ❤️ @deviraissa

Posted on 2018-10-12 Home, Artikel Devi Raissa 0 133

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Cari blog

Latest Comments

No comments