Menahan amarah

Menahan amarah

Saya pernah tidak sengaja terpukul oleh adik saya. Saat itu rasanya sakit sekali. Walaupun tahu gak sengaja, tapi rasanya mau pukul dia balik. Mungkin.. karena ingin agar ia merasakan sakit yang saya rasakan. Mungkin juga karena saya merasa dengan memukul balik akan membuat perasaan saya menjadi lebih baik. Lalu saya mikir lagi, apa iya seperti itu? Apa dengan saya memukulnya akan ada manfaat yang didapat? Sepertinya tidak. Jadi saat itu saya menahan diri untuk tidak memukul dia balik, walau rasanya sulit.  Lalu saya berpikir, bahwa saat kita sebagai manusia disakiti, baik disengaja ataupun tidak, secara natural ingin membalasnya.  Mungkin itulah mengapa saat kita sedang marah banget dengan pasangan kita, kita bisa saja mengatakan atau melakukan sesuatu yang nantinya akan kita sesali. Perkataan, yang saat emosi sudah mereda, ingin kita tarik balik, namun sudah tidak bisa. Perkataan yang sebenarnya meski tidak benar, tetap keluar dari mulut kita, agar si pasangan juga merasa sama sakit hatinya seperti yang kita rasakan.  Hal ini juga berlaku dalam pengasuhan, saat kita begitu kesal dengan apa yang dilakukan oleh si kecil. Saat ia membuat amarah kita bergejolak, baik sengaja ataupun tidak, kita bisa membentak atau marah-marah gak karuan. Yang secara sadar ataupun tidak, sebenarnya terjadi karena kita tidak ingin sakit hati sendiri. Kita ingin orang yang membuat kita sebal, ikut merasakan kekesalan yang sama seperti yang kita rasa.  Nah, coba sekarang saat kita sedang kesal dengan anak atau pasangan, kita renungkan kembali perkataan yang akan kita lontarkan atau perilaku yang akan kita lakukan, apakah untuk kebaikan 2 belah pihak, atau hanya karena ingin mengeluarkan emosi negatif yang kita rasakan entah kemana? Saat anak menumpahkan makanan yang kita masak susah payah, apakah dengan membentak anak dan melabel ia 'nakal' karena kita ingin menunjukkan sakit hati kita & ingin menunjukkan bahwa si lawan bicara (anak) salah serta kita benar, atau sebagai upaya untuk mengajarkan ia agar tidak menumpahkan makanan? Jika untuk mengajarkan ia perilaku yang baik, apakah ada perilaku lain yang bisa kita lakukan? Coba renungkan baik-baik sambil menarik nafas dalam-dalam 

Posted on 2018-08-21 Home, Artikel Devi Raissa 0 194

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Cari blog

Latest Comments

No comments