Jika orang tua sering menunjuk kesalahan anak, dapat menutup pintu komunikasi antara orang tua & anak.

Jika orang tua sering menunjuk kesalahan anak, dapat menutup pintu komunikasi antara orang tua & anak.

Pernah saya kesal sekali dengan pasangan saya. Di otak saya muncul skenario untuk menyalahkannya. Dimulai dengan mengatakan ‘kamu tuh nyebelin’ & dilanjutkan dengan membeberkan ‘dosa’nya. Lalu saya tersadar, kalau seperti itu ia pasti akan diam, karena percuma ucapan apapun yang ia ucapkan tidak akan saya dengar. Hear, tapi tidak listen. Dan akhirnya konflik pun tidak terselesaikan. Mungkin setelah itu kekesalan saya mereda, namun hanya sesaat, karena akarnya tidak dicabut. 
Membayangkan itu, membuat saya diam sejenak, lalu mengubah cara berkomunikasi : dengan mengatakan apa yang saya rasakan jika ia melakukan perilaku (yang menurut saya) menyebalkan, serta perilaku yang saya harapkan muncul dari dia. Setelahnya, justru kami jadi berdiskusi. Saya jadi tahu alasan ia melakukan perilaku tersebut & akhirnya kami mencapai kesepakatan apa yang akan dilakukan untuk mengurangi perilaku tersebut, serta yang sebaiknya dilakukan jika itu terjadi. Tidak ada satu pun dari kami berakhir kesal. Justru komunikasi jadi positif. 
Hal itu membuat saya teringat dengan I-message. Teknik yang saya pelajari saat kuliah dulu. Daripada sibuk menunjuk kesalahan orang lain dengan mengatakan ‘kamu tuh’, diganti dengan apa yang ‘aku’ rasakan. Menurut saya, mengatakan ‘kamu tuh’ seperti menutup komunikasi dengan menghakimi orang lain, merasa yang paling benar, yang bikin lawan bicara malas bicara dengan kita. Belum tentu ia merasa seperti itu. Jika pun merasa, malas melanjutkan komunikasi karena cara kita.
Hal ini mungkin kita temukan juga dalam pengasuhan anak. Misalnya saat ortu mengatakan ‘kamu tuh nakal banget’. Yang jika ini terus dilakukan, bisa membuat anak yang tadinya bingung kenapa disebut nakal, lama-kelamaan kesal, & akhirnya menutup pintu komunikasi antara ortu & anak sedikit demi sedikit. 
Sedih ya jika ini terjadi. Semoga kita bisa selalu membangun komunikasi positif, salah satunya dengan i-message ini. Dan tentunya berkomunikasi saat suasana menyenangkan, seperti ketika membaca buku bersama. Oleh karena itu, kami di Rabbit Hole concern terhadap bagaimana komunikasi positif antara ortu & anak dapat terbangun, sedini mungkin, lewat membaca buku bersama ❤️

Posted on 2018-07-06 Home, Artikel Devi Raissa 0 203

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.