Namanya juga anak kecil

Namanya juga anak kecil

"Ya.. namanya juga anak kecil, wajar lah kalau.."

tiba-tiba nangis meraung-raung, marah sampai melempar barang, tidak merapikan kembali mainannya, tidur sampai larut malam.

Tapi.. apakah benar wajar?

Jika anak dianggap wajar melakukan perilaku-perilaku tersebut.. maka anak akan terbiasa hidup dengan anggapan bahwa ia adalah pusat segalanya. Bahwa tidak apa-apa ia berbuat semena-mena.

"Tapi kan dia masih kecil. Belum ngerti kalau dikasih aturan"

Padahal justru sebaliknya..

Jika anak sedari kecil diajarkan aturan. Dikenalkan dengan rutinitas. Dicontohkan lewat perilaku bagaimana semestinya bersikap saat marah, ketika barang berantakan, dst, maka..

Ia akan terbiasa berperilaku sesuai dengan aturan. 

Ia tahu bahwa ia bukanlah pusat segalanya, sehingga nantinya membuat ia berpikir sebelum bertindak. 

Misalnya saat akan melempar barang ketika marah, kira-kira itu akan membuat orang lain terluka tidak ya kalau kena barang yang aku lempar? Kira-kira barangnya akan rusak tidak ya kalau aku lempar? Dst.

Lain halnya jika ia terus-menerus dimaklumi karena ia anak kecil, dan baru diajarkan aturan ketika sudah lebih besar, maka.. tentu hal tersebut jauh lebih sulit & menantang. Karena apa yang kita kenalkan sedari anak itu kecil, akan sangat mengakar dan sulit untuk dihilangkan. Karena saat ia kecil adalah masanya ia membangun fondasi dirinya & masa ketika otak berkembang dengan sedemikian pesat.

Lain halnya jika ia terus menerus dimaklumi karena ia anak kecil, dan baru diajarkan aturan ketika sudah lebih besar, maka.. tentu hal tersebut jauh lebih sulit & menanang. Karena apa yang kita kenalkan sedari anak itu kecil, akan sangat mengakar dan sulit untuk dihilangkan. Karena saat ia kecil adalah masanya ia membangun fondasi dirinya & masa ketika otak berkembang dengan sedemikian pesat.

Posted on 04/16/2021 Home, Rabbit Hole's Article 0 119

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.