Belajar objektif menyikapi masalah.

Belajar objektif menyikapi masalah.

Terkadang, tanpa sadar, saat menghadapi masalah dengan seseorang, kita akan jadi sangat sebal dengan orang tersebut. Kita memberi cap negatif padanya, seperti 'nyebelin banget tuh orang', hanya karena satu hal mengesalkan dalam dirinya. Kita jadi lupa bahwa selain memiliki satu hal mengesalkan, ia juga punya berbagai hal baik dalam dirinya. 
Jika terbiasa memiliki pola pikir seperti ini, maka bisa saja terbawa dalam pengasuhan anak. Anak yang memang dalam masanya belajar mengenal dan memahami sesuatu dengan bereksplorasi, lumrah untuk melakukan berbagai macam kesalahan. Jika anak melakukan sebuah kesalahan, dan langsung dicap negatif secara umum (seperti : anak menumpahkan makanan langsung dibilang 'kamu tuh emang anak nakal, dibilang gak nurut banget') alih-alih mengatasi masalah secara spesifik (anak menumpahkan makanan maka anak diajarkan untuk lebih berhati-hati), bisa membuat anak menjadi minder, takut bereksplorasi, dan kurang percaya diri. 
Tanpa sadar, sebagai orang dewasa kita pun jadi mengajarkan anak untuk tidak dapat melihat masalah secara objektif. Tidak melatih anak untuk mengatasi masalah secara spesifik. Tentu bukan itu yang kita mau, bukan? Tentu yang kita inginkan adalah dapat memberi berbagai bekal baik pada anak dalam menghadapi dunia. Termasuk melatih anak untuk bijak menyikapi masalah. Anak mencontoh dari apa yang dilihat. Terutama dari apa yang dilakukan oleh orang tuanya

Posted on 01/17/2019 Home, Articles Devi Raissa 0 59

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.