Hal-hal negatif yang memang sepatutnya ada

Hal-hal negatif yang memang sepatutnya ada

“Setiap orang tuh ternyata memang sudah terberi ya punya perasaan negatif, seperti iri hati, cemburu, gak percaya, takut ditinggal. Kayak siapa sih yang saat berpisah, gak ada perasaan sedih dan kecemasan takut ditinggal? Tapi kadarnya kecil dan bisa dikontrol ya. Kalau yang udah berlebihan itu yang gak bagus”

Ujarnya, saat kami mengobrol kemarin. 
Percakapan kemarin membuat saya berpikir. Wajar memang kita ingin menampilkan hal baik. Tapi terkadang kita terjerumus untuk menjadi 'alergi' dengan hal-hal negatif. Kita merasa buruk sekali, dan berusaha untuk menutupi alih-alih mengakui hal negatif yang ada. Padahal sejatinya memang ini tidak dapat dipisahkan. Bahkan memang mutlak ada. 
Misalnya saja perkara membantah. Memang sudah lumrahnya anak toddler itu berkata 'tidak', karena masanya mereka mengembangkan kemandirian. Mereka merasa bisa sendiri, sehingga menolak & membantah orang lain. Namun terkadang sebagai orang tua merasa malu ketika mendapati anak membantah. Merasa bahwa ketika itu terjadi berarti orang tua gagal mendidik anak untuk menjadi anak yang manis. Padahal anak membantah justru menandakan ia mulai mampu berpikir kritis. Padahal justru ketika anak tidak melewati fase ini, berarti ada sesuatu yang kurang tepat. Apakah misalnya anak terlalu tertekan & takut sampai tidak merasa aman untuk menyuarakan pikirannya, termasuk membantah? Apakah kecerdasan anak berada di bawah rata-rata, sehingga ia belum mampu untuk mengembangkan kemandiriannya? Sehingga perilaku yang dianggap negatif ini justru sebenarnya penanda ia akan mengembangkan sesuatu yang positif. Membantah ini bukan semestinya ditekan agar hilang sama sekali, namun sebaiknya disalurkan. Alih-alih melarang anak membantah, anak diajak mengembangkan pikiran yang kritis agar tidak lagi membantah namun diajak bertanya secara kritis. 
Hal ini pun berlaku di semua fase perkembangan, dari mulai bayi sampai tua. Bahwa ada hal-hal negatif yang memang sepatutnya ada, dan justru menjadi pendorong & penanda sesuatu yang positif, jika mampu mengolah & mengontrolnya dengan baik. Kalau tidak, mana mungkin Tuhan menciptakan rasa seperti cemburu, sakit hati, dst, secara percuma, bukan?

Posted on 01/17/2019 Home, Articles Devi Raissa 0 169

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.