Belajar Sebagai Kebutuhan Bukan Kewajiban

Belajar Sebagai Kebutuhan Bukan Kewajiban

Waktu SMA, saya pernah nanya ke guru sejarah saya, kenapa kami harus mempelajari hal yang sama seperti yang kami sudah pelajari di SD dan SMP. Saya yang suka pelajaran sejarah di saat SMP, lalu menjadi bosan setengah mati saat mendengar kembali tentang Gajah Mada & Majapahit di saat saya SMA dengan kisah yang sama persis. Saat itu guru saya menjawab : ‘ya memang kurikulumnya sudah begitu’. Saya kecewa mendengarnya, kala itu. 
Saya lalu berpikir, kalau guru yang menjadi pembimbing dan fasilitator saja tidak tahu tujuan muridnya harus belajar suatu hal. Bagaimana bisa membangun kecintaan belajar dalam diri anak? 
Saat sekolah, saya pun sempat bertanya dalam diri. Apa gunanya sih saya harus bolak-balik setiap hari ke sekolah untuk mempelajari hal yang nantinya juga saya akan saya lupakan, tidak saya sukai, atau tidak tahu apa gunanya? 
Lalu beranjak dewasa, saya mulai punya keinginan untuk punya sekolah. Saya mau anak-anak memiliki kesempatan untuk dapat bersekolah di tempat yang mereka sukai. Mempelajari suatu hal karena suatu kebutuhan, bukan karena kewajiban semata. Atau bahkan harus dipaksa-paksa. Saya mau punya sekolah seperti tempat Totto chan bersekolah. 
Namun sampai sekarang saya belum punya sekolah, & keinginan itu makin pudar, sebenarnya. 
Lalu saya teringat berbagai komentar anak-anak yang membaca buku Rabbit Hole. Ada yang jadi mengenal huruf, mengucap kata-kata yang sebelumnya tidak pernah diucap namun ada di dalam buku, mengenal emosi, mengenal alat transportasi, mencoba resep Nasi Lapola, ingin berlibur & melihat Candi Prambanan, atau jadi mengetahui bagaimana seorang makhluk hidup tumbuh berkembang, semuanya karena membaca buku Rabbit Hole. Bagaimana ternyata buku-buku Rabbit Hole dapat membuat seorang anak dapat belajar dan mengenal suatu hal, karena mereka menyukainya. 
Mungkin mentransfer ilmu dan cara belajar yang menyenangkan tidak mesti melalui sekolah, tapi juga bisa lewat buku yang kita hasilkan. Dan senangnya lagi kalau ingat buku-buku ini bisa masuk ke sekolah-sekolah, bahkan sekolah di pedalaman sekalipun. Lewat program donasi #20untuk1

Posted on 02/27/2018 Home, Kiriman Artikel 0 2604

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.