Dear mama

Dear mama

Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga memang cita-cita saya. Namun ketika dijalani, rupanya sungguh tak mudah. Saya tidak menyangka perubahan hidup bisa sedrastis ini. Mengurus duo bayi dan balita tanpa asisten rumah tangga (ART), serasa menjalani dunia tanpa koma. Seringnya merasa jungkir balik tanpa jeda. Yang paling sulit adalah mengusir rasa jenuh yang sering mengusik.

 

Setiap hari melihat hal yang sama. Dari pagi hingga malam, waktu habis untuk rutinitas yang itu-itu lagi. Setiap hari berkutat "hanya" dengan sepasang bayi dan balita.

 

Tetapi semua perasaan itu berubah ketika melihat anak sakit. Si kecil yang menyusu hingga lelap, wajah polosnya seolah menyampaikan pesan...

 

Dear Mama...

 

Mungkin kau merasa hari-harimu berlalu begitu saja, begini lagi begini lagi tanpa ada sesuatu yang berarti

 

Tapi tahukah Kau, hadirmu bagiku sangat berarti

 

 

 

Dear Mama...

 

Kadang kau merasa setiap hari berada di rumah sangatlah membosankan

 

Tapi percayalah, aku tak pernah bosan untuk bermain bersamamu

 

 

 

Dear Mama...

 

Aku tahu kau merasa jenuh

 

Sebab seluruh waktumu habis hanya untukku

 

Tapi tiap saat bersamamu, jiwaku terasa utuh

 

 

 

Dear Mama...

 

Jangan bersedih saat toko online-mu tak mampu menjadi Star Seller

 

Sebab kau telah menjadi bintang di hatiku

 

 

 

Dear Mama...

 

Aku tahu kau ingin bebas berselancar di dunia maya

 

Tapi tahukah?

 

Saat kau nyata ada di depanku, aku tak menginginkan yang lain lagi

 

 

 

Dear Mama...

 

Kau memang kehilangan duniamu

 

Tapi melaluimu, aku mengenal dunia

 

 

 

Dear Mama...

 

Bagi dunia, mungkin kau bukan siapa-siapa

 

Tapi bagiku, kaulah duniaku

 

 

 

Dear Mama...

 

Jangan hanya melihat dirimu

 

Tapi lihatlah diriku

 

 

 

Saya mencoba memaknai keberadaan diri dari perspektif anak saya.

 

Ah ya... mengapa seringkali mengeluh karena yang terlihat hanya lelahnya diri ini, bukannya bersyukur karena melihat aktif dan sehatnya anak-anak?

 

Dulu begitu mengharap kehadiran buah hati, sekarang sudah dikaruniai lengkap sepasang anak lelaki dan perempuan mengapa malah sering berkeluh kesah?

 

Fokus perhatian hanya pada anak, hasilnya memang tidak kita rasakan sekarang. Saat ini, yang ada mungkin hanya lelah, jenuh, atau stress.

 

Tapi semoga, kelak semua ini akan terbayar

 

Dengan anak-anak yang senantiasa mau mendengarkan dan memahami kita

 

Dengan anak-anak yang memiliki ikatan batin kuat dengan kita

 

Sehingga di manapun mereka berada, meski raganya jauh tapi hatinya tetap mengingat kita, tetap memegang teguh pesan-pesan baik kita.

 

Ah maafkan Nak, maafkan ketidakmampuan mama untuk mensyukuri saat-saat bersamamu selama ini.

 

Posted on 02/27/2018 Kiriman Artikel 0 2759

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.