TENANG DAN BANGKITKAN LAGI!

TENANG DAN BANGKITKAN LAGI!

"Jangan makan es terus nanti batuk!"

"Jangan hujan-hujanan deh nanti pilek!"

"Jangan suka manjat kursi nanti jatuh!"

Cukup sering suami dan saya mendengar berbagai kalimat tersebut ditujukkan kepada anak-anak. Sedih ya! Sebagian besar definisi keceriaan anak-anak ditempeli dengan efek buruk yang seolah-olah pasti akan terjadi.

.

Sejak suami dan saya sah menjadi orang tua, kami sepakat sebisa mungkin tidak akan membatasi ruang gerak buah hati kami. Sulit memang, terlebih untuk saya yang dari kecil terbiasa dengan rasa aman. Rasanya tidak tega apabila anak saya merasakan efek ketidaknyamanan seperti jatuh, flu, atau batuk yang seperti contoh diceritakan diatas. Tapi suami saya selalu berusaha mengingatkan, bahwa harus ada yang mematahkan janji manis 'rasa aman' untuk setiap anak kecil. "Kalaupun akhirnya ada efek buruk yang terjadi, itulah pelajaran bukan penghalang untuk bertumbuh menjadi yang lebih baik kan?", kata suami saya.

.

Normalnya, balita pasti berpikiran bahwa tidak ada hal di dunia yang mempunyai efek buruk. Jadi wajar ketika mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi dan sering di labeli "nggak punya rasa takut".

Salah satu contohnya yaitu ketika anak kami berlari hendak meraih sesuatu sambil tertawa, lalu berakhir terjatuh di luar rumah untuk pertama kalinya. Saat itu usianya baru 1 tahun lewat beberapa minggu, jadi maklum kalau dia belum optimal dalam menjalankan fungsi 'rem'nya.

.

Apa anak kami menangis? Tentu saya, dia manusia biasa kok. Bedanya adalah respon kami. Kami tidak menganggap hal tersebut sebagai kutukan sehingga tidak memperbolehkannya berlari-larian lagi. Yang kami lakukan saat itu adalah tetap tenang, lalu membantunya bangun dan berkata, "Sakit ya, dimana sakitnya? Lain kali pelan-pelan aja deh, kalaupun mau lari-larian lagi hati-hati ya". Kami yakin dia belum paham makna kalimat itu, tapi respon tenang kami inilah yang ikut andil dalam menenangkan dan membangkitkan semangatnya lagi.

.

Banyak dari kita tumbuh menjadi pribadi yang takut gagal karena mungkin pernah menerima respon kurang tepat di masa lalu. Padahal dalam perjalanan hidup, kita tidak akan selalu berada di zona nyaman kan?

Dalam perjalanannya, anak-anak kita pun akan dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan dan sudah menjadi tugas kitalah sebagai orang tua untuk menjaga emosi si anak agar mau tetap mencoba. Seperti yang juga diceritakan di akhir #bukuemosi ketika orang tua si tokoh utama tetap tenang dan menyemangati tokoh utama untuk tetap berlatih bola meskipun sudah kalah dalam pertandingan. Kelihatannya sih sederhana, tapi hal sederhana ini ternyata membawa manfaat jangka panjang. 

Posted on 02/14/2018 Kiriman Artikel 0 1593

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.