Seorang Ibu pun Perlu Memiliki Waktunya Sendiri

Seorang Ibu pun Perlu Memiliki Waktunya Sendiri

Ada kalanya seorang ibu merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas domestiknya. Misalnya saja ketika anak sedang rewel, tidak menghabiskan makan, makan berantakan, belum lagi melihat cucian dan jemuran yang menumpuk, setiap hari pada setiap waktunya selalu ada pekerjaan yang perlu ibu lakukan. Bahkan ketika ingin tidur pun, ibu akan mengecek apa yang belum terselesaikan untuk segera ia selesaikan. Ketika seorang ibu berada pada fase ini, seringnya muncul perasaan ingin marah-marah, berteriak, mengeluh, menangis, ingin meninggalkan semuanya, sampai pada ujungnya ia yang akan merasa paling bersalah. Apalagi ketika melihat wajah mungil si kecil yang sudah pulas tertidur, malaikat kecil tak bersayap tanpa dosa. 

Pun sebenarnya tidak apa jika seorang ibu merasakan lelah dan jenuh, karena memang ibu pun manusia biasa, yang kebutuhannya perlu dipenuhi pula. Ketika fase ini muncul, itu artinya ibu butuh "me time". Maka, komunikasikan saja secara terbuka dengan suami, sang ayah. Bahwa inilah saatnya Ayah memahami signal SOS yang diberikan Ibu. Inilah saatnya Ayah berperan lebih dari biasanya. Pada saat inilah Ayah menjadi super hero terhebat bagi ibu.

Rasanya saya setuju jika ada ungkapan bahwa dalam berumah tangga, Ayah dan Ibu ialah pondasi utamanya. Keduanya perlu bekerja sama untuk saling menguatkan. Ketika salah satu mulai goyah, maka satunya perlu menyumbangkan energi lebih besar dari biasanya untuk menopang sesaat. Sampai segalanya kembali normal. Jika Ayah dan Ibu bisa bersinergi harmonis, anak akan melihatnya sebagai contoh yang baik. Sehingga ia pun tumbuh menjadi pibadi yang bisa diandalkan, dalam kebaikan tentunya. Karena kelak, anak pun akan menjadi pondasi untuk rumah tangganya. 

 

 

Posted on 02/06/2018 Kiriman Artikel 0 5182

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.