"Yang penting itu suami setia. Gak macem-macem"

"Yang penting itu suami setia.

Gak macem-macem"

 

Kita terbiasa untuk menolerir hal-hal bare minimum yang TIDAK ada di dalam pernikahan.

Seperti: komunikasi, empati, kerjasama.

Dengan dalih 'yang penting gak macam-macam'.

Padahal ada banyak hal yang diperlukan di dalam pernikahan sehat, selain 'tidak macam-macam'.

 

"Duh kasihan banget ya masa bapaknya sih yang disuruh mandiin anaknya"

"Duh mau aja diperbudak sama istrinya. Beberes rumah gitu"

 

Di sisi lain.. ketika seseorang melakukan USAHA untuk mewujudkan pernikahan yang sehat.

Tak jarang justru dicibir.

Atau ketika dipuji, dengan tambahan merendahkan pasangannya ("wah hebat banget bapaknya yang nyuapin. Emang ibunya kemana?")

 

"Nambah anak lagi dong. Kasihan si kakak kesepian butuh temen lain.

"Nambah lagi. Biar si kakak gak manja"

"Nambah lagi. Masa kurang perempuan / laki. Biar sepasang. Biar rame"

 

Tak jarang komentar-komentar ini diungkapkan bahkan ketika anak belum genap 2 tahun. Belum usia lepas ASI.

Tak jarang komentar ini dilontarkan.. Tanpa melihat:

• apakah orang tua kewalahan atau tidak dengan masa adaptasi menjadi orang tua?

• apakah anak sesuai usia perkembangannya masih butuh perhatian penuh dari kedua orang tuanya?

• apakah orang tua dapat beradaptasi dengan peran gandanya: sebagai orang tua maupun sebagai pasangan?

 

Kita kerap kali fokus pada kuantitas.

Namun abai pada KUALITAS.

Menganggap bahwa 'pasti ada jalannya kok', padahal bisa jadi ketika orang tua masih kewalahan, rasa frustasinya dilampiaskan ke anak.

Ketika orang tua kewalahan, sehingga abai pada satu sama lain, tidak merawat pernikahan sebagai pasangan. Karena mengurus anak & diri saja sudah kewalahan.

 

Kadang.. pandangan yang mengakar & celotehan yang terkesan sederhana ini..

semakin menjauhkan seseorang untuk benar-benar melihat apa kebutuhannya.

Menjauhkan kita dari USAHA untuk menggapai pernikahan sehat.

 

Padahal.. kalau kita telaah lagi sebenarnya tujuannya untuk apa? Dan adakah manfaatnya?

Ketika kita malu untuk memandikan anak karena dikira 'dijajah istri'. Dan lalu jadi menjauhkan aktivitas bonding dengan anak.

Ketika kita menambah anak hanya demi desakan masyarakat. Namun sebenarnya masih kewalahan & belum siap, sehingga terlampiaskan ke pengasuhan anak yang kurang optimal & hubungan satu sama lain yang meregang (walau memang waktu pastinya kehadiran anak bukan kita yang tentukan, namun bukan berarti tidak bisa kita usahakan) 



Posted on 08/26/2022 Home, Rabbit Hole's Article 0 208

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.