Kalau ditanya.. menikah itu merepotkan atau tidak?

Kalau ditanya.. menikah itu merepotkan atau tidak?

Ya jelas.. merepotkan.

 

Sehingga.. itu lah pentingnya persiapan pernikahan..

agar kita mendapat bayangan seperti apa sih repotnya pernikahan.

dibandingkan kita baru tahu kerepotan itu ketika sudah menjalaninya. Kita terbuai dengan ekspektasi kita sendiri. Dan ketika kenyataan tidak sesuai.. bisa jadi kita menyalahkan pernikahan itu atau pasangan kita sebagai sumber kegagalan.

 

Dengan persiapan pernikahan..

kita lebih bisa MENCEGAH kerepotan-kerepotan yang tidak perlu.

Walau kerepotan tidak bisa dihindarkan di dalam pernikahan, kita bisa mencegah 'drama yang tidak penting'.

Agar nantinya.. kita tidak merasa pernikahan itu tidak ada manfaatnya & hanya merepotkan saja. Agar kita nantinya tidak menjalani pernikahan dengan terpaksa (hanya karena anak & status, misalnya).

 

Seperti: mengenali kebutuhan kita agar nantinya tidak melampiaskan kemarahan pada pasangan.

Belajar berkomunikasi dengan baik agar nantinya mengurangi kemungkinan bertengkar hanya karena kesalahpahaman di dalam berkomunikasi.

Belajar memahami perbedaan perempuan & laki laki. Agar ketika pasangan berperilaku yang tidak kita pahami, tidak langsung kita hakimi, namun kita coba telaah & coba menempatkan diri di posisinya.

 

Sehingga.. dengan persiapan pernikahan..

kita jadi jauh lebih siap untuk menghadapi 'kerepotan pernikahan' yang ada.

Kita jadi lebih bisa menerima & mencari cara untuk mengurangi (bahkan meniadakan) kerepotan itu.

Kita siap untuk berkonflik secara sehat, misalnya. Mendengar sudut pandang pasangan & mencari solusi bersama, agar pertengkaran yang serupa tidak terulangi kembali. Sehingga mengurangi kerepotan karena mesti bertengkar karena masalah yang serupa.

 

Dengan kita siap menerima kerepotan ini.. kita justru bisa BELAJAR dari kerepotan ini.

Membuat kita bertumbuh.

Misalnya saat sedang berkonflik dengan pasangan, kita jadi refleksi diri, dan jadi memahami ternyata kita tidak suka kalau diperlakukan seperti ini. Ternyata cara bicara seperti ini bisa langsung memicu kemarahanku. Ternyata aku paling suka diperlakukan seperti ini.

Sehingga membantu kita mengenali diri kita. Dan membantu dalam pertemanan, pekerjaan, dan nanti saat mengasuh anak.

Kita bisa mengenali pemicu kemarahan di dalam diri. Sehingga bisa belajar untuk meregulasi emosi saat situasi itu datang.

 

Seperti dalam menimba ilmu.

Tentu hal yang merepotkan. Kita harus belajar, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian.

Namun kita jalani karena tahu bahwa hal tersebut membuat kita bertumbuh sebagai pribadi. Mengasah otak & perilaku kita.

Seperti itu juga pernikahan.. memang merepotkan. Namun justru kerepotan itu yang membuat kita bertumbuh.

 

Jika kita berpikir:

"ah udah lah ngapain mikirin ribetnya nikah. Nanti malah gak jadi-jadi. Mending mikir yang enak-enak aja"

Padahal.. untuk hal lain kita mempersiapkan mati-matian. Belajar sungguh-sungguh demi mendapatkan perguruan tinggi terbaik. Persiapan berbulan-bulan demi masuk ke pekerjaan impian.

Lalu.. mengapa untuk hal yang seumur hidup kita akan jalani, tidak kita persiapkan sebaiknya? Dan ketika kita berpikir yang 'enak-enak' lalu kita tidak siap dengan realitanya, bukan hanya diri kita yang menanggung dampaknya, namun pasangan & anak kita kelak..

 

Jika kita hanya ingin agar 'sekedar jadi menikah".

Hanya ingin perubahan status.

Tentu saja hal yang sangat mudah.

Namun jika kita ingin menjalani pernikahan yang berkualitas, tentu perlu ada usaha lebih, yang memang 'merepotkan'. Dasarnya saja menyatukan 2 orang yang sama sekali berbeda, tentu hal yang tidak mudah & tidak bisa senang-senang terus.

Butuh ilmu & persiapan agar penyatuan ini terus bertumbuh & terawat seumur hidup.

Posted on 08/24/2022 Home, Rabbit Hole's Article 0 109

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.