"Kalau lihat orang tuanya, langsung nangis. Padahal ..."

"Kalau lihat orang tuanya, langsung nangis.

Padahal kalau gak ada orang tuanya.. pinter.. gak nangis.. gak rewel.

Orang tuanya nih.. suka manjain. Makanya anaknya jadi cengeng kalau di dekat orang tuanya"

 

Padahal.. anak seperti itu.. karena NYAMAN & PERCAYA pada orang tuanya.

Kita saja.. yang orang dewasa seperti ini, setelah seharian bekerja, saat kembali ke rumah.. ingin menjadi 'diri sendiri' tanpa memakai topeng.

Ingin diterima apa adanya.

Tanpa perlu jaga image. Tanpa perlu berpikir panjang atas perilaku & perbuatan kita. Cukup menjadi diri sendiri.

 

Anak pun seperti itu.. ketika kembali ke 'rumah'nya, ke orang tuanya, kembali menjadi dirinya sendiri.

Bedanya.. ia belum dapat meregulasi emosi.

Ketika merasa tidak nyaman, ia langsung memperlihatkan ketidaknyamananya dengan langsung menangis & berteriak.

Apalagi.. (misalnya) sebelumnya orang tuanya pergi dalam waktu cukup lama, ia jadi lebih sensitif & lebih tidak nyaman.

Akhirnya.. yang terlihat.. anak lebih sering menangis justru ketika bersama orang tua.

Yang perlu kita lakukan sebagai orang tua..

justru mengajarkan cara untuk meregulasi emosi secara BERTAHAP

Karena.. kita adalah sumber kenyamanannya.. maka anak akan lebih mau mendengarkan & jadi lebih mudah belajar regulasi, dibanding dengan sosok lain.

Misalnya.. dengan memberikan kenyamanan terlebih dahulu (misalnya: memeluk), lalu memvalidasi emosi (misal: kakak kesel ya karena....). Dan setelah tenang, diajak berdiskusi soal solusi selain berteriak.

 

Sehingga.. nantinya.. secara bertahap..

ia bisa mengekspresikan emosinya secara sehat. Sambil tetap menjadikan kita 'rumah'nya. Tempat amannya untuk menjadi dirinya.

Misalnya :

bercerita hal yang membuatnya kurang nyaman. Meminta pelukan dari kita saat tidak nyaman. Menangis di pangkuan kita saat sedang sedih. Dan seterusnya.

 

Kita.. sebagai orang tuanya.. bukan justru MENJAUH.

Bukan justru menganggap anak akan manja & perlu tangguh jika kita memberikan kenyamanan & kebutuhannya.

Ya.. ketika kita MENJAUH.. anak bisa saja menjadi 'tangguh'. Menjadi sosok yang (terlihat) kuat, namun rapuh di dalam. Menjadi sosok yang terlihat tegar, namun perlahan ia pun dapat MENJAUH secara emosional dari kita.

Karena., ia tangguh dipaksa keadaan.

 

Karena yang ia butuh.. adalah kenyamanan.. yang menjadi fondasi untuk 'ketangguhannya' berpijak secara kuat. Tidak rapuh.

Agar.. ia mampu menjadi pribadi yang cerdas secara emosi, mampu meregulasi emosi.

Tangguh.. yang dibangun secara bertahap.

Tangguh.. yang bukan selamanya harus terlihat kuat. Namun tahu kapan titik lelahnya, jedanya.

Dan saat berjeda.. tahu kemana tempat 'pulang & beristirahat. Agar saat kembali dari rehatnya.. ia dapat optimal mengerahkan kemampuan & potensinya.

Jika orang tua tidak dapat menjadi 'rumah'nya.. lalu kemana ia harus mencarinya?

 

PS: orang tua yang memberikan KEBUTUHAN anak, berbeda dengan memberikan KEINGINAN anak.

KEBUTUHAN anak.. termasuk hal-hal yang mungkin terlihat tidak nyaman & tidak dibutuhkan anak, misalnya.. memberikan rutinitas pada anak sedari dini (seperti menggosok gigi sebelum tidur).

Sehingga.. KEBUTUHAN anak.. selain kasih sayang.. juga disiplin. Namun disiplin yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak & dikomunikasikan (misalnya: ketika anak tidak mau menggosok gigi, orang tua mengatakan 'yuk gosok giginya, nanti giginya bisa bolong, nih boneka adik juga gosok gigi srok srok srok, sekarang gantian adik yang gosok gigi. Sambil bernyanyi. Dan seterusnya).




Posted on 06/30/2022 Home, Rabbit Hole's Article 0 207

Leave a CommentLeave a Reply

You must be logged in to post a comment.